![]() |
| Rohmat bersama Kompor Kosprima |
Sebagian pengguna kompor gas pun sewaktu-waktu merasa cemas dan was-was, jangan-jangan saat tengah memasak tabung kompor gas yang digunakan meledak.
Di saat ibu-ibu rumah tangga tengah merasa khawatir, kini Rohmat (43) warga Wonokerso RT 5 RW 3 Desa Wonosari Kecamatan Wonosobo Kabupaten Wonosobo mampu menciptakan kreasi baru Kompor Hemat Egergi, Aman dan Tahan Lama (Kosprima).
Kompor Kosprima ini lain dari kompor yang lain. Sumber energinya bukan dari minyak tanah atau gas tapi menggunakan spirtus atau bioetanol. Bahan bakar mudah dicari karena di toko-toko banyak dipasarkan.
Dikatakan Rohmat, kompor buatannya lebih hemat, aman, kuat dan tahan lama. Hemat karena 1 liter spirtus atau bioetanol bisa digunakan selama 6 jam atau lebih. Aman, pasalnya, kompor ini tidak bisa meledak.
Kerangka kompor yang dibuat dari besi ukuran tebal, membuat alat masak alternatif ini lebih tahan lama. Bisa digunakan dalam waktu puluhan tahun. Besinya termasuk anti karat.
Kompor Kosprima ini juga cukup kuat. Sebab, menahan beban alat masak dan masakan hingga 1/2 kwintal. Jadi bisa mencukupi untuk memasak dalam skala besar. Ibu-ibu rumah tangga sangat efisien dan efektif jika memasak dengan mengunakan kompor jenis ini.
Api yang keluar dari kompor tersebut, seperti api dalam kompor gas berwarna kebiru-biruan. Apinya tidak bisa menimbulkan jelaga (angus) di dalam alat masak.
Inovatif
Rohmat tergolong orang yang cukup inovatif. Pasalnya, sebelum menciptakan kompor Kosprima, ayah tiga putra ini, telah membuat kompor sejenis dengan media listrik dan minyak tanah.
Tapi lantaran penggunaan energi listrik meski praktis tapi dinilai kurang hemat. Karena bisa menyedot kebutuhan listrik yang cukup banyak. Ini mengakibatkan beban penggunaan listrik rumah tangga menjadi tinggi, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk membayar rekening juga mahal.
Sedang pembuatan kompor dengan menggunakan minyak tanah terpaksa dihentikan karena sejak pemerintah mengeluarkan kebijakan konversi energi ke kompor gas, terjadi kelangkaan minyak tanah di pasaran.
"Akibat sulitnya mencari minyak tanah, masyarakat pun jadi jarang menggunakan lagi kompor minyak tanah. Padahal kompor buatan saya sudah cukup irit karena minyak tanah sudah dicampur dengan tanah", katanya.
Tak berhenti sampai di situ, rupanya hambatan demi hambatan tak membuat Rohmat bosan untuk melakukan inovasi baru. Maka lahirlah ide untuk merakit kompor dengan media spiritus atau bioetanol.
Sejak diluncurkan kompor ini laku keras di pasaran. Permintaan di konsumen cukup tinggi, seperti disebut di muka, karena kompor spiritus rakitan pria kreatif dan pekerja keras ini, lebih irit, kuat, aman dan tahan lama.
Ribuan jenis kompor yang dibuat warna-warni seperti, hitam, hijau, biru, ungu dan merah ini, bahkan sampai terbang ke luar pulau Jawa. Warga kebanyakan mengaku suka dengan kompor tersebut karena tidak kalah kualitas dengan kompor gas.
Jika kompor Kosprima dulu menggunakan media spiritus diletakan di bagian bawah kompor, kini dia membuat terobosan baru lagi. Mengapa? model yang seperti itu rawan bocor dan spiritus bisa menguap sewaktu-waktu.
Karena itu, Rohmat memutar otak agar bisa menemukan model baru. Maka munculah gagasan membuat tabung untuk menampung spiritus atau bioetanol sebagai media menyulut api. "Saya memang tipe orang yang suka mencari inovasi-inovasi baru", akunya.
Kreasi baru itu, sebutnya, bukan berarti kompor buatan terdahulu kurang bagus. Tapi, sebagai langkah untuk mengantisipasi perkembangan tehnologi baru. Karena dalam pandangan dia, saat ini, setiap saat dunia tengah berkembang dengan teknologi terkini yang lebih maju dan modern.
Aman
Bentuk dan setting kompor Kosprima ini, sebenarnya hampir sama dengan kompor kebanyakan. Berbentuk segi empat dengan ketinggian sekitar 15 cm.
Jika minyak tanah atau tabung gas diletakkan di bagian bawah tempat masak atau kompor Kosprima sebelumnya tabung spiritusnya ada persis di bawah kompor, yang ini lain lagi, karena tabung ditaruh terpisah dengan kompor.
Jika minyak tanah atau tabung gas diletakkan di bagian bawah tempat masak atau kompor Kosprima sebelumnya tabung spiritusnya ada persis di bawah kompor, yang ini lain lagi, karena tabung ditaruh terpisah dengan kompor.
Letaknya tidak di bawah tempat masak tapi malah ditempatkan jauh di atas tempat masak. Tabung diletakan dengan cara dicantel menggunakan paku atau diikat dengan kawat besi. "Bisa juga dibuatkan tempat khusus di tembok atau kayu pagar rumah", jelas Rohmat.
Dari tabung ada selang khusus yang menghubungkan ke dalam kompor. Selang yang terjamin kekuatan dan keawetannya nya itu, kata Rohmat, menjadi jalan keluarnya spiritus yang menjadi sumber api. Di kompor tersebut ada media api yang disebut batner. Batner terbuat dari pipa tembaga kecil.
Di atas pipa tembaga dibuat sarangan api dari besi untuk mengatur keluarnya api agar merata. Besi seperti seng itu dilubangi kecil-kecil sebagai jalan api.
"Ada alat khusus untuk mengatur volume api. Jika ingin api kecil tinggal mengurangi volume. Bila menghendaki api besar, tinggal membesarkan. Sangat praktis", lontar Rohmat.
"Ada alat khusus untuk mengatur volume api. Jika ingin api kecil tinggal mengurangi volume. Bila menghendaki api besar, tinggal membesarkan. Sangat praktis", lontar Rohmat.
Cara menghidupkan api, ujar suami Siti Rohayah (33) ini, pengguna tinggal menyulutkan api di sumbu dengan menggunakan korek api. Tatkala ingin mematikan, tinggal mengecilkan valume, api akan mati dengan sendirinya.
Saat ini pihaknya, bersama sekitar 10 karyawan, tengah memproduksi ribuan kompor Kosprima. Rencananya kompor tersebut akan didistribusikan ke konsumen di wilayah kota-kota di Jawa Tengah, Jakarta, Surabaya dan Bandung.
"Bahkan banyak distributor yang sudah siap memasarkan kompor Kosprima ke luar Jawa", tegas Rohmat yang selama ini dalam memproduksi alat masak tersebut bekerjsama dengan PT Madu Baru Yogyakarta.
Untuk membuat kompor ini, kata Rohmat, cukup sulit karena itu butuh tenaga-tenaga khusus. Karyawan yang saat ini memproduksi dipandang sudah cukup pengalaman dan ketrampilan yang memadai untuk merekayasa kompor Kosprima tersebut. (Muharno Zarka).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar